Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Fasilitasi adalah gaya hidup’ Category

Seharian kemarin saya mengikuti AI Summit yang difasilitasi langsung oleh pendiri Appreciative Inquiry, David Cooperrider, di Fakultas Psikologi UI. Acara yang digelar dalam rangka memperingati 55 tahun kiprah FPSi UI ini berlangsung semarak, penuh kreatif, tetapi tetap substansial, yaitu mencari dan menemukan visi masa depan Fakultas Psikologi UI.  Kegiatan diikuti bukan saja oleh jajaran staf pengajar, karyawan dan mahasiswa (under dan post- graduate), tetapi juga para alumni dan user atupun mitra yang selama ini bekerja sama.

 

Meski saya sudah pernah beberapa kali memfasilitasi kegiatan dengan menggunakan metode AI, tetapi karena fasilitasi kali ini langsung dilakukan oleh Cooperrider, menjadi terasa berbeda dan lebih bermakna. Saya bukan saja belajar bagaimana AI diterapkan (dengan siklus 4-D: discovery, dream, design, destiny), tetapi bagaimana sikap, ketrampilan dan knowledge dari fasilitator didemonstrasikan saat memfasilitasi.

 

Cooperride mengawali fasilitasinya dengan meyakinkan peserta tentang pentingnya AI dalam perencanaan organisasi. Ia bercerita pengalamannya, salah satunya saat membantu menangani konflik di negerinya Nelson Mandela. Baginya, dalam mengelola organisasi, perencanaan memegang peran yang sangat penting. Perencanaan bukan saja menjadi langkah kerja menuju goal yang akan dicapai, tetapi juga mempersiapkan diri/organisasi dalam menghadapi perubahan. Ada tiga hal penting dalam mengelola perubahan: novelty (semangat akan kebaruan), continuity (keberlanjutan) dan transition. Ketiganya menjadi inti dalam mengelola perubahan.

 

Lalu bagaimana perubahan itu dikelola? AI menawarkan dengan siklus 4D. Siklus diawali dengan Discovery, yaitu menemukan nilai positif dari prestasi di masa lalu. Pertanyaannya: ceritakanlah suatu pengalaman yang membanggakan (tanpa harus menjadi sombong) yang pernah dialami di masa lampau. Mengapa pengalaman itu membanggakan? Lalu masuk ke Dream, bayangkan saat ini kita tertidur, dan bangun dalam 5-10 tahun mendatag, dan semua hal bekerja seperti yang kita bayangkan. Seperti apakah bayangan kita itu? Disinilah titik penting dari metode ini, AI menggunakan kekuatan masa lampau untuk membangun masa depan, dan menjadikan masa depan sebagai mercu suar yang memandu perencanaan dan implementasinya.

 

Barulah sesudah itu masuk ke tahap Design, apa yang akan dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut. Mulailah dari program yang kecil, mudah, tetapi berdampak besar. Mulai dari diri sendiri dan kelompok kecil. Perencanaan yang apresiatif akan mendorong kita mewujudkan takdir kita, Destiny.

 

Selama workshop kemarin, saya merasakan aliran energi positif yang menyebar dari setiap peserta. Terbayang bahwa dalam 5 tahun ke depan, Fakultas Psikologi UI, bukan hanya menjadi fakultas terdepan di Indonesia, tetapi juga Asia Tenggara dan dunia. Kalau mau belajar Psikologi Multikulturalisme? Ya ke UI…. kalo googling ”Multiculturalism Psychology” or ”Asian Psychology” … maka FPsi-UI berada di urutan 1….

 

Begitulah sebuah mimpi apresiatif dilahirkan…

Read Full Post »

Awal Juli lalu, selama dua hari saya membantu kawan-kawan Taruna Reka (ini nama organisasi karang taruna di dusun Karang Ploso, Bantul. Berisi anak-anak muda berbakat, penuh semangat, dan punya mimpi cemerlang) mengevaluasi kegiatan mereka selama difasilitasi oleh Kampung Halaman (ini sebuah yayasan pemberdayaan kaum muda melalui media video documenter yang berbasis di Jogja). Proyek itu telah berjalan 6 bulan dari 1 tahun yang direncanakan oleh Kampung Halaman, sebagai bagian dari program recovery pasca gempa Jogja. Bagi Kampung Halaman sendiri moment ini penting untuk melihat sejauh mana kegiatan yang mereka jalankan di tingkat lapangan. Hal ini bisa dilihat dari pemahaman dan ketrampilan dari peserta dalam memanfaatkan video. Selain untuk evaluasi, mereka juga ingin menyusun rencana ke depan.

Dalam memfasilitasinya, saya mengkombinasi beberapa metode. Untuk evaluasi (refleksi tepatnya), saya menggunakan metode appreciative inquiry (AI): ini metode pengkajian secara apresiatif yang berangkat dari paradigma psikologi positif. AI membantu peserta untuk berfikir positif, berangkat dari modal personal dan sosial yang ada, dan kekuatan imagi. Dikombinasi dengan evaluasi partisipatif dengan metode Most Significant Change (MSC). Metode ini membantu peserta untuk mengambil hikmah dari pengalaman-pengalamannya yang mampu memberikan perubahan bagi dirinya, kelompoknya, dan masyarakatnya. Kedua metode ini diharapkan mampu menggugah peserta untuk sadar akan kapasitas individu dan komunitasnya.

Sedangkan untuk perencanaannya, saya kombinasi antara AI dengan technology of participation (ToP). AI memberikan kekuatan imajinasi dalam melihat masa depan, sedangkan ToP membantu dalam menurunkan mimpi tersebut kedalam perencanaan secara strategis dan realistis melalui tahapan: menentukan kondisi yang akan dicapai dalam 2 tahun ke depan (saat proyek ini berakhir), menyusun visi strategis, mengidentifikasi penghalang, menentukan arah/haluan baru, dan menyusun rencana strategis 6 bulan ke depan.

Selain itu proses fasilitasi saya rancang dengan mengambil format ala sanggar. Sanggar adalah media belajar yang sudah lama dikenal secara tradisional bagi masyarakat Jawa. Di dalam sanggar pengetahuan dan pengalaman di tempa (produce), dikaji-ulang (reflection), dan diciptakan kembali (reproduce), sehingga menghasilkan produk budaya yang baru. Intinya sanggar menjadi tempat untuk belajar dari pengalaman.

Sebagai langkah pemanasan dan untuk mengaktifkan kemampuan bercerita peserta saya gunakan media gambar. Pada mulanya saya minta mereka menggambar wajahnya dari berbagai sisi: tampak depan, belakang, atas, bawah. Sengaja saya minta mereka bercerita tentang diri mereka, karena dalam video participatory, diri adalah subyek video yang paling ansich. Hasilnya, cukup banyak hal2 yang tak terduga: ada yang merasa jadi gemuk karena sudah 2 bulan tak bekerja, ada yang merasa biasa-biasa aja, ada yang wajahnya lebih ganteng dari gambarnya (halah!), ada yang bilang meski mukanya aneh tapi seneng banget dengan bentuk bibirnya (apa hubungannya?), atau ada yang seneng dengan alisnya (”khan gak perlu dilukis2 alisnya,”). Lumayan berhasil membongkar kemauan mereka untuk bercerita.

Yang menarik ketika bicara jilbab. Maklum hampir sebagian besar peserta perempuan memakai jilbab. Ternyata jilbab punya fungsi yang bermacam-macam: selain menutup aurat, jilbab juga jadi alat untuk mempercantik diri (beberapa peserta menghias jilbabnya), pengaman dari gangguan  lelaki jahil, atau untuk menutupi bagian yang tembam (sehingga tidak tampak gemuk).

Juga soal jenggot. Mesti tak banyak, tapi beberapa peserta memang memelihara jenggot. Yang satu untuk menambah kewibawaan, satu lagi membuat mukanya jadi lebih kurus. Sempat ada jokes: apa kesamaan PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera)? Tepat: keduanya menyukai jenggot…heheheh

Setelah itu mereka diminta untuk menggambarkan satu pengalaman dalam 6 bulan terakhir dan dianggap sebagai pengalaman yang paling mengesankan sehingga mampu merubah diri, kelompok dan masyarakatnya.

Dari gambar-gambar peserta tampak bahwa sebagian besar peserta mengakui bahwa kehadiran proyek KH di Karang Ploso mampu meningkatkan kapasitas individu, khususnya berkenaan dengan ketrampilan menggunakan video participatory, mulai dari menyusun cerita, mengambil gambar, editing, hingga menjadi sebuah film yang utuh. Beberapa bahkan menjadikan membuat film adalah pengalaman yang sangat berkesan, baik dari segi proses (harus mengambil kandang ayam, misalnya), maupun substansi (saat membuat ”Andai Aku Tahu”)

Beberapa peserta menyatakan keberadaan proyek KH mampu merubah mereka dari pribadi yang sebelumnya merasa sendirian, kini telah memiliki kelompok. Mereka jadi lebih ”gaul” dan tampaknya KH sukses memperkenalkan mereka dengan orang-orang baru dari luar desa maupun ”dunia” yang selama ini mereka geluti. Mereka juga makin mengenal karakter pribadi mereka maupun orang-orang disekitar dengan lebih baik.

Sebagai mereka juga merasakan bahwa  keberadaan proyek KH mampu mendorong  kegiatan-kegiatan lainnya yang bermanfaat, seperti kerajinan, dan usaha lain untuk meningkatkan kehidupan dan pertanian kampung mereka. Bahkan saat ini untuk kerajinan sudah ada permintaan dari pihak luar desa, sedangkan untuk LSM (lembaga shooting manten/macam-macam) sudah menerima permintaan jasa dokumentasi.

Satu pokok penting adalah tingginya harapan peserta terhadap Sanggar Karang Taruna yang sedang didirikan. Beberapa peserta melihat pembangunan Sanggar, baik secara fisik maupun aktifitas kegiatan, adalah bukti nyata kehadiran kaum muda di Karang Ploso. Kegiatan kumpul-kumpul dimaknai secara positif oleh sebagian besar peserta.

Dari gambaran mimpi dan rencana tampak adanya kesadaran dari para kawula muda untuk terlibat dalam pengembangan kampung yang lebih luas. Mereka mampu mengidentifikasi beberapa persoalan yang penting dan mendesak untuk diperbaiki sehingga kehidupan kampung menjadi lebih baik. Dalam hal ini memakmurkan masjid dan kerukunan warga menjadi perekat sosial (modal sosial) yang mereka rasakan penting sebagai modal dasar membangun kampung.

Selain itu, mereka juga menyadari perannya untuk turut memajukan kesejahteraan kampung melalui pengembangan ekonomi yang berbasis rakyat dan potensi kampung. Di sini pengembangan pertanian menjadi hal penting sebagai dasar kesejahteraan kampung, didukung dengan pengembangan kerajinan dan holtikultura.

Kunci dari peran kaum muda di kampung adalah dengan menjadikan sanggar sebagai sarana aktifitas dan ekspresi mereka. Dari gambaran mimpi tampak bahwa sanggar ke depan akan diaktifkan sebagai pusat belajar dan pendidikan non formal. Bukan hanya untuk berbagi pengetahuan dengan pihak-pihak di dalam kampung, sanggar nantinya akan terbuka dengan pihak di luar kampung. Selain itu pengembangan sanggar juga diikuti dengan “sayap profit.” Bagian ini diharapkan akan menjadi pendulang dana yang dihimpun dari aktifitas-aktifitasnya, seperti LSM (lembaga shoting macem2), bioskop rakyat, dan lainnya.

Ah…. betapa bersemangatnya mereka. Sebuah rencana membangun kampung telah digulirkan oleh para kaum muda!

Read Full Post »

mimpi-tnk2.jpg

Bontang yang berdebu dan senyap. Dari 27-30 Juli 2007 kami membantu kawan-kawan Balai TN Kutai (TNK) untuk menyegarkan diri dan organisasi melalui team building TNK.  

Hal ini dilakukan karena saat ini TNK sedang dalam tekanan konflik yang luar biasa. Perambahan kawasan tampak jelas di kiri kanan jalan yang membelah TNK. Enclave yang sebelumya seolah menjadi jawaban atas masalah tersebut, justru kini menjadi masalah baru, karena kian lama luasan kawasan enclave itu makin luas. Perambah terus berdatangan, bahkan dengan mematok batas dan membawa spanduk-spanduk dengan merujuk pada suku-suku tertentu. ”Perambahan” bukan hanya oleh masyarakat, bahkan kini telah berdiri rumah sakit daerah, POM Bensin, bahkan kantor kelurahan dan kecamatan. Akan kemanakah muara problem ini? 

Untuk menyegarkannya, kami mengkombinasi metode Appreciative Inquiry (AI) dengan Technology of Participation (ToP). AI digunakan untuk membuka pengalaman terbaik staf dan menjadi energi positif dalam membangun mimpi bersama. Sedangkan ToP digunakan untuk menyusun perencanaan yang berangkat dari mimpi (atau visi dalam bahasanya ToP). 

Melalui AI kami berhasil membangkitkan kembali kesadaran kelompok kawan-kawan di balai TNK, semangat bekerja sama, dan etos kerja individu yang berimbas pada etos kerja lembaga. Melalui AI setiap peserta diajak untuk mendengar dan mengapresiasi pengalaman-pengalaman subyektif dari setiap staff. Ada tangis dan tawa, getir dan haru, tapi juga semangat yang menyala-nyala. Ada banyak staff yang dahulu bekerja tanpa pamrih dengan tekad bulat meski gaji baru diterima 8 bulan kemudian, dan mereka tidak mengeluh. Ada beberapa staff yang pernah terlibat konflik bahkan mengalami kekerasan fisik tapi tidak dibela sedikitpun oleh lembaga. Ajaibnya meski merasa sakit, tapi tetap setia dengan TNK. 

Energi positif ini kami manfaatkan dalam membangun mimpi bersama tentang Balai TNK. Ada yang fokus pada kelembagaan, pola kepegawaian dan sistem penghargaan bagi pegawai. Ada juga yang bicara soal citra, betapa pentingnya menaikkan citra TNK yang kian lama seolah tak bernyawa. 

Nah ToP membantu kami untuk menurunkan mimpi-mimpi itu ke dalam perencanaan masa depan melalui tahapan identifikasi penghalang dan haluan baru. Dari penghalang terlihat bahwa persoalan di TNK bisa dikategorisasi ke dalam persoalan internal, tumpang tindihnya kebijakan pusat dan daerah, keberadaan masyarakat (asli dan pendatang) dalam kawasan menjadi salah satu pemicu konflik sosial, perbedaan persepsi tentang enclave serta perbedaan kepentingan antar pihak sehingga menjadikan kawasan konservasi sebagai obyek politik.  

Dari penghalang tersebut, diidentifikasi haluan baru. Ada banyak ide yang berkembang disini. Satu kelompok memfokuskan pada peningkatan citra lembaga: dengan memanfaatkan radio, merubah penampilan staff, merubah ruang kantor, bahkan ”kalau perlu kepala Balai kita modali BMW atau Mercy, biar gak kalah sama direktur-direktur dan Bupati,” kontan usulan ini disambut tawa oleh staff lainnya. Kelompok lain lebih melihat pada pentingnya penguatan lembaga, melalui pertemuan rutin antar staff, wisata keluarga tiap 6 bulan sekali ), advokasi kebijakan, membangun kolaborasi dengan multipihak yang berkepentingan dengan TNK, hingga pemberdayaan masyarakat: dengan melibatkan masyarakat dalam konservasi dan membangun ekonomi alternative berbasis konservasi. Arah baru ini mampu memberikan setitik harapan dan pencerahan bagi TNK. 

Semoga TNK mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah!

Read Full Post »

training.jpg

Berdasar empati, Dan minat yang kuat / Tanpa memihak, Tanpa “menjilat” / Hilangkan asumsi, dan S’lalu percaya / Semua itu harus kita punya / Semua harus tertanam dijiwa /
Penyimak yang baik, Dan banyak bertanya / Tanpa amarah, Hindari konflik / Memberi s’galanya, K’cuali jawaban / Semua itu harus diterapkan / Semua harus menjadi pedoman
Reff : Lebih baik disini / Rumah kita sendiri / Segala mimpi adalah kunci solusi / Semuanya ada disini…./ Rumah kita…. / Fasilitator

Syair di atas adalah salah satu rangkuman yang dibuat oleh kelompok 2 peserta training seni fasilitasi untuk CSR yang kami fasilitasi 1-5 Agustus 2007 di Tanjung Bara, Sangata, Kaltim. Syair itu diadaptasi dari lagu Godbless, “Rumah Kita.” Syair yang dalam dan menggugah serta mampu bercerita tentang peran dari fasilitator sebagai pemudah cara. 

Training ini sendiri memperkenalkan kepada peserta tentang seni fasilitasi (sikap, ketrampilan dan pengetahuan fasilitasi), metode-metode partisipatif (PAR dan AI) serta berfikir sistemik. Training diikuti oleh peserta yang beragam latar belakang, ada yang sudah bangkotan dalam dunia fasilitasi, ada mahasiswa, staff dinas, perusahaan dan LSM. Keragaman ini berhasil memberi energi positif bagi seluruh peserta.

Bernyanyi adalah salah satu alat yang kami gunakan dalam training ini. Bernyanyi mengaktifkan otak kanan dan membuat memory yang kuat bagi peserta. Kalau tak percaya ujilah berapa banyak lagu yang kita ingat syairnya. Inilah salah satu cara membangun memory kolektif dari training ini.

Read Full Post »

kami adalah keajaiban

Mbak Nisa berjilbab, menahan isak ketika bercerita perjalanan hidupnya hingga “terdampar” di Balai Taman Nasional Kutai (TNK). Penuh liku dan ketegangan disana-sini. “Saya tengah menunggu keajaiban dari Tuhan, mengapa saya berada disini.” Demikian ia menutup ceritanya. Semua tercekat, terdiam menahan haru.

 

Tak lama, Mas Sandi bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. “saya sering diejek sebagai anak pasal 34.” Semua peserta terheran-heran, apa maksudnya. “Pasal itu di UUD yang berbunyi kira-kira fakir miskin, dan anak terlantar dipelihara oleh Negara, dan saya sejak kecil hingga kini mengambil S2 di IPB biaya sekolah saya selalu dapat beasisiswa dari Negara.” Sandi melanjutkan dan menutup ceritanya, “karenanya saya selalu percaya bahwa setiap hari adalah keajaiban!” Lagi-lagi semua tercekat, dan mahfum Tuhan telah menjawab pertanyaan Mbak Nisa.

 

Kali berikutnya adalah Mas Ating, pria kurus dengan celana cingkrang dan janggut yang cukup lebat. Ia tak bercerita, tapi membaca puisi yang dibuatnya tentang hidupnya. “Kehidupan selalu memberi keajaiban, dan karenanya saya adalah keajaiban itu!” ahhh Tuhan menjawab lebih dalam lagi…

 

Kami semua terpana, kagum dan mengalami pencerahan tak terkira. Sessi berbagi pengalaman antar staf Taman Nasional Kutai telah membuka cakrawala seluruh peserta team building yang kami fasilitasi 28-31 Juli 2007. Akhirnya kami berikrar, bahwa ”kami adalah keajaiban.” Kami adalah keajaiban bagi TN Kutai yang sedang dirundung masalah berat: konflik enclave yang tak berkesudahan. Kami adalah keajaiban bagi TN Kutai yang sedang mencari jalan baru bagi pengelolaan konservasi di Indonesia. Jalan baru yang mencerahkan semua pihak yang terlibat dengan TN Kutai.

Inilah salah satu kekuatan dari appreciative inquiry yang kami gunakan. Bagaimana setiap peserta saling mengapresiasi pengalaman terindahnya selama menjadi staf TNK. Sebuah keajaiban sedang bergulir disini. Depok, 9/08/07

Read Full Post »

Pohon

Saya senang dengan analogi pohon sebagai sebuah micro system. Pohon terdiri dari akar, batang, rerimbun daun, dan buah yang satu sama lain saling terkait. Pohon juga dipengaruhi oleh macro-system di luarnya, seperti tanah, udara, angin, cahaya matahari, hujan,  dan lainnya.

 

Dalam memfasilitasi kita bisa menggunakan analogi pohon ini untuk memahami cara berfikir orang, “membongkarnya” dan membangun pemahaman baru. Seperti dalam shared learning Tata Ruang yang kami lakukan beberapa waktu lalu. Kegiatan ini selain diikuti oleh pemda dari 8 kabupaten (Jambi, Kalbar, Kaltim dan Papua Barat), juga kawan dari Dephut, LSM maupun lembaga riset.

Kami mengawali sessi dengan meminta peserta untuk menggambarkan pemahaman dan pengalaman mereka tentang Tata Ruang dengan analogi pohon. Ternyata hasilnya bervariasi. Kawan-kawan Dephut kecenderungannya bermain di legalitas (yaitu batang), lembaga riset cenderung bermain di akar melalui penelitian (pemetaan, studi biodiversitas, dll), teman2 pemda bermain di batang dan daun (kebijakan dan implementasinya di lapangan), sedangkan kawan-kawan LSM cenderung untuk bermain di semua areal. Uniknya tak ada yang terlalu memikirkan hasil maupun eksternal system.

Ketika kami sampaikan soal ini, banyak peserta termangu. Mereka menyadari dengan gambaran tersebut, tak mengheran kalau penyusunan tata ruang selama ini  hanya sebagai kebijakan kertas dan tak pernah menjadi acuan di lapangan.

Berangkat dari kesadaran itu lalu kami menyusun agenda belajar bersama tentang tata ruang yang manusiawi, ramah secara ekologi, dapat diimplementasikan dan bermanfaat bagi banyak pihak.

Selamat mencoba…

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.