“Apa kata dunia?”

Akhirnya nonton juga Nagabonar jadi 2 bersama istri tercinta di Margo City, setelah beberapa waktu direncanakan. Ini adalah nonton yang kedua kalinya di bioskop sejak menikah. Terakhir menonton di bioskop sekitar 2 tahun lalu dengan film GIE beberapa hari menjelang Malika lahir. 

Awalnya, adegan mengalir dengan lambat, Nagabonar bersimpuh di hadapan 3 makam orang-orang yang dicintai, Mak, Kirana dan Bujang, dengan latar belakang kebun sawit . Dedy begitu piawai memainkan mimik dan vokalnya, seolah-olah ia sedang berbicara dengan ketiga orang itu. Sepanjang monolog, saya terbayang kuat adegan demi adegan dari “Nagabonar”, dimana Mak minta sirih dan digendong Naga, atau adegan merayu Kirana dengan lagu seri langkat, atau adegan bujang merajuk karena pangkatnya Cuma kopral dan akhirnya mati terbunuh dengan pakaian jendral Nagabonar. Maklum, film ini betul-betul membuka mata saya tentang dunia teater pada waktu itu. Selain itu, selama tugas di Jambi saya selalu membawa film ini. Kepada penduduk dimana saya melakukan penelitian, film ini seringkali saya gunakan sebagai model kepemimpinan… 

Selanjutnya adegan demi adegan berlangsung makin cepat, menguras tawa serta airmata. Saya tak mampu menahan airmata ketika Naga meminta patung Jendral Sudirman untuk menurunkan tangannya, apa yang kau hormati Jendral ? Sebuah nasionalisme yang ganjil di tengah deru kehidupan kota. Atau saat ia meminta maaf kepada Bonaga yang tak mampu mengajarkan kelembutan ibunya kepadanya. Maklum, Naga memelihara Bonaga seorang diri. Aku Cuma lalaki kasar… 

Film ini pun mampu menghadirkan Indonesia yang berubah dan tanpa wajah: anak-anak muda yang kosmopolit berhadapan dengan orang tua yang seolah gagap dengan kehidupan sekarang, mungkin aku tinggal di waktu yang salah, curhat Naga ke anaknya. Atau si Jaki, tangan kanan Bonaga yang rajin sholat, tapi rajin juga ke disko dan mempermainkan pajak.   Tanpa menggurui, film ini tampil kuat dengan pesan moral: seorang lelaki tua yang baru belajar agama, supir bajaj yang lugu dan bersahaja, soal cinta, pentingnya sepakbola, hingga nasionalisme. 

Sudah lama tak menikmati tontonan seperti ini di film-film Indonesia. Apalagi di tengah gempuran film berganre hantu (oalah, semakin memperkuat dugaan bahwa bangsaku masih berada di tahap mistik). Sebuah kerinduan yang impas. Ditunggu Nagabonar berikutnya,….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s