Tamasya Teori di IPB

9-10 May lalu, IPB mengadakan seminar Menuju Desa 2030. Tujuannya sih ingin membangun gambaran masa depan desa. Berbagai pemakalah dihadirkan. Ada Muhammad Sobary yang membuka wacana akan kemanakah desa di masa depan? Kalau desa tak ada lagi di tahun 2030, jangan ditangisi! kata sang kolumnis. Karena sejak masa kerajaan, kolonial, hingga orde lama, orde baru, bahkan orde reformasi wajah desa selalu berubah. Hanya kemiskinan dan kebodohan yang tetap tinggal di sana. Ia menuding pendidikan yang tak berakar dan pembangunan yang tak manusiawi. Sebuah pembukaan yang muram, bagi saya. 

Bahkan para pendekar tua pun turun gunung memberikan pandangannya. Seperti Prof. Tjondronegoro yang bicara tentang sejarah desa, sejak masa prakolonial, hingga kolonial. Atau Prof. Sjamsoeoed Sadjad, yang melihat perlunya membangun desa industri desa dengan bertumpu pada kolaborsi antara pihak swasta, koperasi, dan bank desa.

Yang menarik, dalam kata pembukaannya, seorang petinggi kampus bercerita tentang penolakan masyarakat Aceh terhadap kapal yang mereka berikan saat program rekonstruksi dan perbaikan Aceh baru dimulai di awal 2005. Dari peristiwa itu, IPB kemudian belajar bagaimana membangun perencanaan bersama masyarakat. Ini membuat saya heran, kalau ditahun itu IPB baru belajar membangun berpartisipasi dengan masyarakat, kemana saja mereka selama ini? Begitu tinggikah menara IPB sehingga tak bersentuhan dengan masyarakat? Apakah selama ini gerakan yang dilakukan kawan-kawan LSM tak bersentuhan dengan kampus? 

Saya lebih terkesima dengan para pendekar muda. Lulusan dari universitas terkemuka dari berbagai belahan dunia. Mereka begitu fasih mengutip dan merangkai teori-teori canggih. Sebut saja misalnya sebuah makalah yang memperlihatkan bagaimana desa tengah dalam tekanan 3 kekuatan besar: Trans-National Corporations (TNCs), Trans-National States (TNSs), dan Trans-National Knowledge System (TNKs). Desa menjadi korban ekspansi kolonialisme dan globalisasi (melalui TNCs), sehingga tak kuasa mempertahankan kemandirian ekonomi dan politiknya. Disamping itu TNSs juga mampu menghempaskan sistem lokal masyarakat, melalui marginalisasi peran masyarakat lokal, serta peminggiran pengetahuan lokal (melalui TNKs).  Namun ujungnya gagap ketika membangun visi masa depan desa. Padahal, Kalau bukan IPB, siapa lagi yang memikirkan desa? harapan salah seorang peserta. Harapan yang terlalu muluk tampaknya. Visinya adalah familiasi baru, atau perlunya perubahan struktur radikal agar desa mampu mandiri, adalah beberapa visi yang dimunculkan dari para panelis. Tapi saya kurang puas dengan wacana semacam itu. Beruntung ada Mbak Tri Mumpuni yang benar-benar mumpuni dalam menunjukkan kemampuan desa untuk mengelola diri sendiri, khususnya dalam menyediakan sumber energi. Berbekal pengalaman lapangan di berbagai desa di Indonesia, ia berbagi cerita. Bagaimana alam yang dimanfaatkan secara bijak dan cerdas, mampu memandirikan desa.  

Jadilah saya berwisata teori. Menikmati kecanggihan berfikir di seminar ini, diselilingi penganan khas desa (ada tiwul, getuk, dan bubur sumsum). Kalau Descartes pernah bilang Cogito Ergo Sum, aku berfikir maka aku ada, saya justru mengalami, cogito orgasm, aku berfikir maka aku puas…. hehehe, namanya juga wisata teori…. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s