Kematian

Dalam seminggu terakhir, ada dua kematian di dekat saya.

 

Pertama, 4 hari yang lalu. Saya melayat Bapak Mertua teman sekantor saya, di sebuah siang yang terik. Suasana rumah dan kompleksnya (beliau tinggal di kompleks diklat milik
Dephut RI) sudah penuh oleh para pelayat dengan raut muka kesedihan. Karangan bunga belasungkawa bertebaran. Dan mobil-mobil penghantar sudah berbaris rapi di kiri-kanan jalan kompleks.

 

Sebelum diberangkatkan ke tanah kubur, ada acara pelepasan. Seorang mewakili keluarga menyampaikan terima kasih atas kehadiran para pelayat dan memohon maaf kalau selama hidupnya Almarhum memiliki kesalahan dan bila ada hutang piutang agar diselesaikan dengan pihak keluarga. Selanjutnya sambutan disampaikan oleh seorang pejabat tinggi di lingkungan kerjanya. Ia menyampaikan sejarah singkat kehidupan Almarhum, sumbangsihnya bagi departemen, serta beberapa penghargaan yang telah Almarhum terima. Sambutan ditutup dengan pernyataan bahwa keteladananlah yang berhasil Almarhum sumbangkan bagi departemen. Keteladanan sebagai seorang pegawai yang merangkak dari bawah, keteladanan seorang pemimpin ketika menjadi seorang menjabat posisi penting di departemen itu.

 

Kedua, dua hari lalu. Istri saya mengatakan kalau salah seorang tetangga kami telah meninggal. Saya cukup kaget, karena tidak ada bendera kuning di sekitar kompleks dan tidak ada keramaian pelayat. Memang dalam beberapa hari terakhir rumah tetangga saya tersebut relative lebih sepi dari biasanya. Kami hanya menyampaikan bela sungkawa denga berkunjung singkat ke rumah tersebut keesokan harinya.

 

Kematian selalu menjadi misteri. Kita pasti mati. Tetapi tak pernah tahu kapan kita akan mati: hari ini, besok, atau 50 tahun lagi. Kita tak pernah tahu dimana kita akan mati: ditempat tidur, dipelukan istri, di mobil, di jalanan, atau malah di atas meja judi. Dan kita pun tidak pernah tahu bagaimana kematian kita: tertabrak, sakit, tertembak, sudah tua, atau malah bunuh diri. Dua peristiwa ini mengingatkan saya pada sebuah ajaran sufi, ingat-ingatlah kematian untuk menuntun hidupmu, begitulah kira-kira isinya. Dalam Islam, kematian dalam khusnul khatimah menjadi keinginan semua muslim.

 

Stephen Covey bahkan menjadikan mengingat kematian sebagai salah satu cara untuk menentukan secara efektif visi kita. Dari dua peristiwa di atas, coba kita tentukan bentuk kematian seperti apa yang kita inginkan? Apa yang ingin kita dengar dari orang-orang yang akan memberi sambutan dalam kematian kita? Apa yang orang-orang pergunjingkan saat kematian kita? Apakah kematian kita menjadi cerita sedih dan  kehilangan bagi orang-orang di sekitar kita? Apakah kematian kita adalah akhir dari cerita kita, mengingat banyak orang yang terus dikenang meski sudah meninggal?

 

Renungkanlah!

One thought on “Kematian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s