“Haluan Baru”

mimpi-tnk2.jpg

Bontang yang berdebu dan senyap. Dari 27-30 Juli 2007 kami membantu kawan-kawan Balai TN Kutai (TNK) untuk menyegarkan diri dan organisasi melalui team building TNK.  

Hal ini dilakukan karena saat ini TNK sedang dalam tekanan konflik yang luar biasa. Perambahan kawasan tampak jelas di kiri kanan jalan yang membelah TNK. Enclave yang sebelumya seolah menjadi jawaban atas masalah tersebut, justru kini menjadi masalah baru, karena kian lama luasan kawasan enclave itu makin luas. Perambah terus berdatangan, bahkan dengan mematok batas dan membawa spanduk-spanduk dengan merujuk pada suku-suku tertentu. ”Perambahan” bukan hanya oleh masyarakat, bahkan kini telah berdiri rumah sakit daerah, POM Bensin, bahkan kantor kelurahan dan kecamatan. Akan kemanakah muara problem ini? 

Untuk menyegarkannya, kami mengkombinasi metode Appreciative Inquiry (AI) dengan Technology of Participation (ToP). AI digunakan untuk membuka pengalaman terbaik staf dan menjadi energi positif dalam membangun mimpi bersama. Sedangkan ToP digunakan untuk menyusun perencanaan yang berangkat dari mimpi (atau visi dalam bahasanya ToP). 

Melalui AI kami berhasil membangkitkan kembali kesadaran kelompok kawan-kawan di balai TNK, semangat bekerja sama, dan etos kerja individu yang berimbas pada etos kerja lembaga. Melalui AI setiap peserta diajak untuk mendengar dan mengapresiasi pengalaman-pengalaman subyektif dari setiap staff. Ada tangis dan tawa, getir dan haru, tapi juga semangat yang menyala-nyala. Ada banyak staff yang dahulu bekerja tanpa pamrih dengan tekad bulat meski gaji baru diterima 8 bulan kemudian, dan mereka tidak mengeluh. Ada beberapa staff yang pernah terlibat konflik bahkan mengalami kekerasan fisik tapi tidak dibela sedikitpun oleh lembaga. Ajaibnya meski merasa sakit, tapi tetap setia dengan TNK. 

Energi positif ini kami manfaatkan dalam membangun mimpi bersama tentang Balai TNK. Ada yang fokus pada kelembagaan, pola kepegawaian dan sistem penghargaan bagi pegawai. Ada juga yang bicara soal citra, betapa pentingnya menaikkan citra TNK yang kian lama seolah tak bernyawa. 

Nah ToP membantu kami untuk menurunkan mimpi-mimpi itu ke dalam perencanaan masa depan melalui tahapan identifikasi penghalang dan haluan baru. Dari penghalang terlihat bahwa persoalan di TNK bisa dikategorisasi ke dalam persoalan internal, tumpang tindihnya kebijakan pusat dan daerah, keberadaan masyarakat (asli dan pendatang) dalam kawasan menjadi salah satu pemicu konflik sosial, perbedaan persepsi tentang enclave serta perbedaan kepentingan antar pihak sehingga menjadikan kawasan konservasi sebagai obyek politik.  

Dari penghalang tersebut, diidentifikasi haluan baru. Ada banyak ide yang berkembang disini. Satu kelompok memfokuskan pada peningkatan citra lembaga: dengan memanfaatkan radio, merubah penampilan staff, merubah ruang kantor, bahkan ”kalau perlu kepala Balai kita modali BMW atau Mercy, biar gak kalah sama direktur-direktur dan Bupati,” kontan usulan ini disambut tawa oleh staff lainnya. Kelompok lain lebih melihat pada pentingnya penguatan lembaga, melalui pertemuan rutin antar staff, wisata keluarga tiap 6 bulan sekali ), advokasi kebijakan, membangun kolaborasi dengan multipihak yang berkepentingan dengan TNK, hingga pemberdayaan masyarakat: dengan melibatkan masyarakat dalam konservasi dan membangun ekonomi alternative berbasis konservasi. Arah baru ini mampu memberikan setitik harapan dan pencerahan bagi TNK. 

Semoga TNK mampu menyelesaikan masalah tanpa masalah!

2 thoughts on ““Haluan Baru”

  1. Otokritik !

    ‘Sebagai salah satu peserta, saya sangat menghargai usaha ini, dan saya merasa terbangkitkan. melakukan hal-hal kecil yang mungkin tidak pernah dikerjakan sebelumnya adalah awal dari sebuah perubahan yang radikal.

    Ada satu hal penting yang menurut saya hilang yaitu pemimpin yang memberdayakan. Saat ini kita punya 2 master jebolan luar negeri yang ‘mangkrak’, yang potensinya harus digali kemudian ditransformasikan untuk mencoba dari hal-hal kecil mengurai benang kusut TNK ( belakangan 2 master ini tersiar sudah direstui untuk pergi karena dianggap tidak cukup berperan/tidak diberi peran?) ‘sang pemimpin’ terlalu asik dan menggantungkan pada ‘ kelompoknya’ . Kita tidak punya pemimpin yang dengan tulus memberikan apresiasi untuk membangkitkan ‘ singa tidur’ yang akan menerkam manakala teritorinya diambil alih pihak lain. Kita juga tidak punya pemimpin yang mampu melihat jauh kedepan yang dengan visinya mampu menggerakkan setiap potensi untuk bekerja minimal tidak menjadi masalah, sebelum mampu menyelesaikan masalah.

    Ada kalanya balai harus berefleksi, bahwa tidak perlu menyalahkan pihak lain tetapi apa yang sudah dilakukan sebagai penggengam otoritas . Maaf juga harusnya ini menjadi otokritik bagi balai dan bukan semacam curhat pada sampeyan.

    hem-hem salam saya buat yang lain

  2. Dear mas Mata Rimba yang baik, terima kasih atas comment dan curhatannya, sungguh membuka mata saya akan kondisi yang sesungguhnya. Anda benar bahwa kepemimpinan bukanlah dibangun atas master tidaknya seseorang, kepemimpinan bukanlah jabatan, tapi kemampuan insani untuk memanfaatkan segenap yang dimilikinya dalam mempengaruhi pihak-pihak lain di sekitarnya untuk melakukan perubahan yang lebih baik.

    Anda benar bahwa diperlukan pemimpin yang memiliki visi, mampu membangkitkan semangat corps balai yang sedang turun, dan mampu merangkul banyak pihak dalam menyelesaikan konflik teritorial yang kian carut marut. Pertanyaan saya, apakah anda siap mengambil peran itu? Saya kira inilah saat yang tepat untuk menggulirkannya, seperti yang sudah Anda mulai lakukan, dari diri sendiri, kecil tapi signifikan, dan mulailah ajak kawan-kawan anda untuk berani melakukan perubahan…. salam juga untuk yang lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s