“50 tahun Antropologi UI : Sederhana dan Lirih”

Hari Juma’at (07/09/07) lalu, Jurusan Antropologi memperingati 50 tahun program Antropologi di UI, secara sederhana dan lirih. Sederhana karena acaranya memang sangat sederhana disesuaikan dengan adat kebiasaan para antropers UI. Acara yang dimulai jam 7 malam menampilkan sambutan oleh Prof James Dananjaya dan setelah itu diisi pementasan lagu-lagu oleh duo Arie-Reda (yang ngetop dengan musikalisasi puisinya Sapardi Joko Damono). Ini mirip dengan acara ”warung antrop” yang sudah mentradisi.  

Yang menarik, Jum’at siang, saya menemani Iwan Pirous, dosen muda berbakat, dan Inyo Ariefiansyah, visual etnografer yang muda dan penuh semangat memberi gambaran dunia antropolog kepada mahasiswa baru. Untuk tahun ini, UI menerima sekitar 25an mahasiswa untuk program antropologi. Dengan malu-malu, ternyata dari jumlah itu, ada 5 orang yang mengaku menjadikan antropologi sebagai pilihan pertama. Dan 1 orang yang betul-betul memilih karena berminat dan tertarik dengan soal-soal budaya dan masyarakat. Lainnya adalah karena realistik: daya saing jurusan ini tak sebesar jurusan lain di UI, ”yang penting bisa masuk UI.” ada juga pilihan itu sebagai cadangan karena sebetulnya pilihan utamanya ke jurusan lain di FISIP. 

Kepada mereka saya katakan bahwa tak kaget dengan hal itu. Bagi saya ini seolah memberikan gambaran umum, pertama karena Antropologi tampaknya belum berhasil memperlihatkan jati dirinya di kancah keilmuan sosial di Indonesia. Tak heran bila seorang kawan tergerak untuk menulis buku pelajaran Antropologi untuk anak SMA (bukunya sudah terbit!), karena dari naskah yang ia baca sebelumnya, nyaris tak ada bedanya antara antropologi, sosiologi, bahkan sejarah! 

Soal berikutnya, kiprah Antropologi dalam jagat keindonesiaan juga masih banyak dipertanyakan. Setiap saya menyebut antropologi, paling mentok yang mereka ingat adalah Koentjaraningrat. Selebihnya menebak, ”itu bukannya ilmu tentang tulang –belulang ya (itu arkeologi, pak!)”, atau ”oh ilmu yang meramal pake bintang-bintang ya ya (itu astrologi, pak…)?”, persis kartun yang dibikin kerabat saat inisiasi 95 (kalo gak salah) yang bercerita tentang dialog seorang pacar anaknya dengan orang tua si anak itu. Sang anak begitu membanggakan pacarnya diterima di UI, sang pacar kelimpungan menjelaskan jurusan yang dipilihnya….heheheh.

Kalau ditarik lebih jauh, masih banyak pertanyaan tentang peran dan kiprah Antropologi dalam proses keindonesiaan ini? Sejauh ini antropolog selalu gak jauh-jauh dari suku-suku terasing nan eksotis yang tersebar di seantero nusantara ini (satu-satunya suku yang tidak pernah diteliti antropolog adalah suku cadang!) . Terlibat di berbagai proyek ”pembangunan” seperti transmigrasi, ”pemukiman kembali” masyarakat terasing, pengembangan pedesaan, dan sekarang sedikit naik adalah dalam urusan gender dan perempuan.  

Sabtu paginya saya baca di harian Kompas dikutip wawancara dengan Mas Afid (Ahmad Fedyani Saefuddin) dan Mas Ezra yang bicara masih kurangnya apresiasi negara terhadap peran antropolog. Hal ini terlihat dari proses pembangunan di Indonesia yang seringkali tidak sesuai dengan nilai-nilai kultural suatu masyarakat. Selain itu, kemajukan budaya belum menjadi modal pembangunan tetapi malah jadi unsur pemecah.

Karenanya jadi tantangan Antropologi ke depan. Bagaimana antropologi bisa lebih visioning dan applied bagi kehidupan bangsa ini. Padahal antropologi punya perangkat ilmu yang mampu menukik menghujam mendalami realita. Mengapa itu tak terpakai berguna? 

Disinilah sisi lirihnya.. Di usia 50 tahun, Antropologi masih belum mampu bersuara lantang!  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s