“membangun kampung”

Awal Juli lalu, selama dua hari saya membantu kawan-kawan Taruna Reka (ini nama organisasi karang taruna di dusun Karang Ploso, Bantul. Berisi anak-anak muda berbakat, penuh semangat, dan punya mimpi cemerlang) mengevaluasi kegiatan mereka selama difasilitasi oleh Kampung Halaman (ini sebuah yayasan pemberdayaan kaum muda melalui media video documenter yang berbasis di Jogja). Proyek itu telah berjalan 6 bulan dari 1 tahun yang direncanakan oleh Kampung Halaman, sebagai bagian dari program recovery pasca gempa Jogja. Bagi Kampung Halaman sendiri moment ini penting untuk melihat sejauh mana kegiatan yang mereka jalankan di tingkat lapangan. Hal ini bisa dilihat dari pemahaman dan ketrampilan dari peserta dalam memanfaatkan video. Selain untuk evaluasi, mereka juga ingin menyusun rencana ke depan.

Dalam memfasilitasinya, saya mengkombinasi beberapa metode. Untuk evaluasi (refleksi tepatnya), saya menggunakan metode appreciative inquiry (AI): ini metode pengkajian secara apresiatif yang berangkat dari paradigma psikologi positif. AI membantu peserta untuk berfikir positif, berangkat dari modal personal dan sosial yang ada, dan kekuatan imagi. Dikombinasi dengan evaluasi partisipatif dengan metode Most Significant Change (MSC). Metode ini membantu peserta untuk mengambil hikmah dari pengalaman-pengalamannya yang mampu memberikan perubahan bagi dirinya, kelompoknya, dan masyarakatnya. Kedua metode ini diharapkan mampu menggugah peserta untuk sadar akan kapasitas individu dan komunitasnya.

Sedangkan untuk perencanaannya, saya kombinasi antara AI dengan technology of participation (ToP). AI memberikan kekuatan imajinasi dalam melihat masa depan, sedangkan ToP membantu dalam menurunkan mimpi tersebut kedalam perencanaan secara strategis dan realistis melalui tahapan: menentukan kondisi yang akan dicapai dalam 2 tahun ke depan (saat proyek ini berakhir), menyusun visi strategis, mengidentifikasi penghalang, menentukan arah/haluan baru, dan menyusun rencana strategis 6 bulan ke depan.

Selain itu proses fasilitasi saya rancang dengan mengambil format ala sanggar. Sanggar adalah media belajar yang sudah lama dikenal secara tradisional bagi masyarakat Jawa. Di dalam sanggar pengetahuan dan pengalaman di tempa (produce), dikaji-ulang (reflection), dan diciptakan kembali (reproduce), sehingga menghasilkan produk budaya yang baru. Intinya sanggar menjadi tempat untuk belajar dari pengalaman.

Sebagai langkah pemanasan dan untuk mengaktifkan kemampuan bercerita peserta saya gunakan media gambar. Pada mulanya saya minta mereka menggambar wajahnya dari berbagai sisi: tampak depan, belakang, atas, bawah. Sengaja saya minta mereka bercerita tentang diri mereka, karena dalam video participatory, diri adalah subyek video yang paling ansich. Hasilnya, cukup banyak hal2 yang tak terduga: ada yang merasa jadi gemuk karena sudah 2 bulan tak bekerja, ada yang merasa biasa-biasa aja, ada yang wajahnya lebih ganteng dari gambarnya (halah!), ada yang bilang meski mukanya aneh tapi seneng banget dengan bentuk bibirnya (apa hubungannya?), atau ada yang seneng dengan alisnya (”khan gak perlu dilukis2 alisnya,”). Lumayan berhasil membongkar kemauan mereka untuk bercerita.

Yang menarik ketika bicara jilbab. Maklum hampir sebagian besar peserta perempuan memakai jilbab. Ternyata jilbab punya fungsi yang bermacam-macam: selain menutup aurat, jilbab juga jadi alat untuk mempercantik diri (beberapa peserta menghias jilbabnya), pengaman dari gangguan  lelaki jahil, atau untuk menutupi bagian yang tembam (sehingga tidak tampak gemuk).

Juga soal jenggot. Mesti tak banyak, tapi beberapa peserta memang memelihara jenggot. Yang satu untuk menambah kewibawaan, satu lagi membuat mukanya jadi lebih kurus. Sempat ada jokes: apa kesamaan PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera)? Tepat: keduanya menyukai jenggot…heheheh

Setelah itu mereka diminta untuk menggambarkan satu pengalaman dalam 6 bulan terakhir dan dianggap sebagai pengalaman yang paling mengesankan sehingga mampu merubah diri, kelompok dan masyarakatnya.

Dari gambar-gambar peserta tampak bahwa sebagian besar peserta mengakui bahwa kehadiran proyek KH di Karang Ploso mampu meningkatkan kapasitas individu, khususnya berkenaan dengan ketrampilan menggunakan video participatory, mulai dari menyusun cerita, mengambil gambar, editing, hingga menjadi sebuah film yang utuh. Beberapa bahkan menjadikan membuat film adalah pengalaman yang sangat berkesan, baik dari segi proses (harus mengambil kandang ayam, misalnya), maupun substansi (saat membuat ”Andai Aku Tahu”)

Beberapa peserta menyatakan keberadaan proyek KH mampu merubah mereka dari pribadi yang sebelumnya merasa sendirian, kini telah memiliki kelompok. Mereka jadi lebih ”gaul” dan tampaknya KH sukses memperkenalkan mereka dengan orang-orang baru dari luar desa maupun ”dunia” yang selama ini mereka geluti. Mereka juga makin mengenal karakter pribadi mereka maupun orang-orang disekitar dengan lebih baik.

Sebagai mereka juga merasakan bahwa  keberadaan proyek KH mampu mendorong  kegiatan-kegiatan lainnya yang bermanfaat, seperti kerajinan, dan usaha lain untuk meningkatkan kehidupan dan pertanian kampung mereka. Bahkan saat ini untuk kerajinan sudah ada permintaan dari pihak luar desa, sedangkan untuk LSM (lembaga shooting manten/macam-macam) sudah menerima permintaan jasa dokumentasi.

Satu pokok penting adalah tingginya harapan peserta terhadap Sanggar Karang Taruna yang sedang didirikan. Beberapa peserta melihat pembangunan Sanggar, baik secara fisik maupun aktifitas kegiatan, adalah bukti nyata kehadiran kaum muda di Karang Ploso. Kegiatan kumpul-kumpul dimaknai secara positif oleh sebagian besar peserta.

Dari gambaran mimpi dan rencana tampak adanya kesadaran dari para kawula muda untuk terlibat dalam pengembangan kampung yang lebih luas. Mereka mampu mengidentifikasi beberapa persoalan yang penting dan mendesak untuk diperbaiki sehingga kehidupan kampung menjadi lebih baik. Dalam hal ini memakmurkan masjid dan kerukunan warga menjadi perekat sosial (modal sosial) yang mereka rasakan penting sebagai modal dasar membangun kampung.

Selain itu, mereka juga menyadari perannya untuk turut memajukan kesejahteraan kampung melalui pengembangan ekonomi yang berbasis rakyat dan potensi kampung. Di sini pengembangan pertanian menjadi hal penting sebagai dasar kesejahteraan kampung, didukung dengan pengembangan kerajinan dan holtikultura.

Kunci dari peran kaum muda di kampung adalah dengan menjadikan sanggar sebagai sarana aktifitas dan ekspresi mereka. Dari gambaran mimpi tampak bahwa sanggar ke depan akan diaktifkan sebagai pusat belajar dan pendidikan non formal. Bukan hanya untuk berbagi pengetahuan dengan pihak-pihak di dalam kampung, sanggar nantinya akan terbuka dengan pihak di luar kampung. Selain itu pengembangan sanggar juga diikuti dengan “sayap profit.” Bagian ini diharapkan akan menjadi pendulang dana yang dihimpun dari aktifitas-aktifitasnya, seperti LSM (lembaga shoting macem2), bioskop rakyat, dan lainnya.

Ah…. betapa bersemangatnya mereka. Sebuah rencana membangun kampung telah digulirkan oleh para kaum muda!

8 thoughts on ““membangun kampung”

  1. Salam kenal ama mas-mas yang ada disini, artikel kegiatan membangun kampung cukup menarik, aku aktifis conservasi di kal-teng (OF-Uk, mohon bisa gabung dan tukar pengalaman tentang kegiatan kemasyarakatan, siapa tau bisa aku terapkan di kampungku yang mayoritas illegal logging dan illegal mining. salam

  2. tulisan menarik, bolehkan tak print kemudian tak berikan ke kawan-kawan agar kita bisa melihat refleksi orang lain terhadap proses yang kita jalani…

    sungguh saat yang menyenangkan mengenal, berbagi danbelajar bersama anda…

    nuwun
    semoga berkenan.
    moekk

  3. Sama-sama mas Moeklas, silahkan saja digunakan untuk kepentingan yang relevan dan signifikan, ini copyleft kok… ditunggu juga komentar atas proses yang kita jalani sama-sama. proses yang menarik, harus diakui, kalau setiap kampung di Indonesia memiliki anak muda seperti sampeyan dan kawan-kawan, Indonesia bisa segera keluar dari himpitan krisis yang tak berkesudahan ini…

    salam hangat untuk kawan-kawan di karang ploso

  4. Salam kenal juga mas Jakir, semoga bisa berbagi pengalaman juga di sini… bagaimana mendampingi para illegal logger dan miner, tentu menarik… ditunggu cerita2nya

  5. Hai ….
    sebuah tulisan yang bagus.. Mohon izin juga untuk digunakan kepentingan penyadaran mahasiswa di kampus.

  6. terima kasih telah berbagi pengalaman lewat tulisan!
    mungkin bisa diulas lebih dalam tentang metode-metode yang dipakai seperti Apreciative Inquiry dan Technology of Participatory-nya.
    terus terang saya baru denger. jadi mohon pencerahan ya kang…
    maturnuwun!

  7. tulisan ini cocok untuk proses pengembangan kompetensi fasilitator pemberdayaan masyarakat di Indonesia.

    ijin kutip untuk rubrik praktik cerdas pemberdayaan website pfpm (fasilitator-masyarakat.org).

    terima kasih,
    edward

  8. bagus sekali tulisan2nya mas.. mudah2an bisa kontak lewat email🙂
    perlu belajar banyak dari mas ttg fasilitasi…
    makasih mas🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s