“The Law of Attraction”

Beberapa waktu yang lalu seorang kawan baru (dia adalah suami dari teman istri saya) membawakan sebuah film dokumenter ke rumah kami. Film itu berjudul “The Secret.” Film itu ternyata sejak diluncurkan pertengahan tahun 2006, hingga hari ini, telah terjual 2 juta copy, 3.75 juta buku, dan 400 ribu audiobook. Saat ini bukunya bahkan telah diterjemahkan dalam 24 bahasa, termasuk edisi Indonesia. Di Internet, dibicarakan jutaan orang, ribuan forum dan website dan menyebar ke seluruh dunia seperti virus dengan jutaan fans setia. Dibahas koran USA Today, CBS News, Time Magazine. Diliput Ellen Degeneres Show, Larry King Show dan Oprah Winfrey Show!

Dengan menarik, film ini menggambarkan bahwa apa yang sedang kita pikirkan saat ini akan menciptakan kehidupan masa depan kita. Kita menciptakan hidup kita dengan kekuatan pikiran kita. Ini mirip dengan pemikiran Covey bahwa proses penciptaan itu selalu 2 kali, pertama di kepala kita lalu ketika terwujud dalam kenyataan. Intinya dengan berfikir, maka kita sedang mencipta dunia. Berfikir seperti menjadi kunci menuju pintu dunia. Ia ibarat pesawat telpon yang mengkoneksikan melalui kabel-kabel dengan pesawat telpon lainnya di berbagai belahan dunia. Intinya adalah apa yang paling kita pikirkan atau fokuskan adalah apa yang akan muncul dalam hidup kita nantinya.

Mengapa demikian? Rahasianya adalah pada hukum ketertarikan (the law of attraction). Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu yang datang ke dalam hidup kita ditarik oleh kita ke dalam hidup kita. Dan segala sesuatu itu tertarik ke diri kita oleh citra-citra yang kita pelihara didalam benak kita. Pikiran kita ibarat magnet yang menarik ke arahnya. Pikiran juga ibarat gravitasi dimana semua benda jatuh ke dalamnya,

Menariknya, dunia memberikan apa yang kita pikirkan. Kalau kita berfikir positif, maka dunia akan memberikan energi positifnya kepada kita. Kalau kita berfikir negatif, maka dunia akan memberikan energi negatifnya kepada kita. Repotnya adalah kalau kita tidak berfikir sama sekali, entah apa yang diberikan dunia kepada kita.

Nah, film tersebut menganjurkan salah satu cara untuk menguasai pikiran adalah belajar menenangkan akal/pikiran melalui meditasi. Meditasi menenangkan akal, membantu mengendalikan pikiran, dan menghidupkan kembali tubuh kita. Kang Agus Mulyana, kawan karib saya, sering menyatakan bahwa meditasi membantu kita menyadari pikiran-pikiran monyet dan mengendalikannya. Pikiran ibarat monyet yang berjumpalitan di dahan-dahan otak kita, pikiran negatif, jorok, dan kotor berseliweran diantara pikiran positif, bersih dan inspiratif. Kita perlu mengendalikan agar otak kita dipenuhi oelh pikiran positif, bukan sebaliknya. Karena bila pikiran negatif tak dikendalikan ia akan berkembang biak dan membebani otak kita. Mendeteksinya mudah saja: berapa banyak kita mengeluh dalam satu hari? Kalau banyak, segera sadari bahwa monyet-monyet pikiran negatif tengah bergelayut bebas di kepala kita.

Dalam meditasi, untuk menyadari pikiran-pikiran kita, niatkan bahwa “Saya adalah tuan dari pikiran saya.” Sering-seringlah mengatakannya, meditasikan dan ketika kita memelihara niat itu, dengan adanya hukum tarik menarik, kita akan menjadi seperti apa yang kita niatkan.

Jadi apa yang ditunggu lagi? Ayo pikirkan akan seperti apa kita di masa depan….

2 thoughts on ““The Law of Attraction”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s