“Bulan Seribu Tawa”

Hari-hari puasa kini adalah hari-hari penuh tawa. Semua tayangan di TV menghadirkan tawa yang tiada batasnya menjelang sahur. Malam penuh rahmat yang sebaiknya diisi sholat malam, kini bersalin rupa dalam tawa dan banjir hadiah. Beginilah berpuasa di zaman komodifikasi akut, semakin sempit saja ruang untuk khusyu, berefleksi tentang hidup. Zarathustra mesti turun gunung, dan kembali ke tengah pasar, bukan Cuma tuhan yang dicari, tapi kini kemanusiaan yang kian hilang dan terhegemoni oleh tawa.

Di Indonesia, saya kira, tertawa adalah komodifikasi kedua terhebat setelah kehidupan para artis dalam infotainment. Berbeda dengan kehidupan artis yang tak jauh-jauh dari soal-soal hubungan (nikah-cerai-selingkuh-pertengkaran), maka tawa hampir tak ada pakemnya. Mulai dari gaya Tukul nan ndeso, atau Olga yang trans-sex, atau model republik mimpi. Melawak bisa dilakukan sendirian, berkelompok, hingga disutradarai dengan plot naskah yang ketat. Dan semua hal bisa ditertawakan: mau kyai, presiden, rakyat jelata, bule, anak-anak, apa saja bisa. Intinya gak perlu jadi pelawak, kita sudah bisa memancing humor…

Dan sedihnya (atau malah riangnya?), semua kebolehan tertawa ini muncul habis-habisan di Bulan Ramadhan ini. Bulan yang semakin jadi anomali bagi diri dan tubuh kita. Bulan yang lain (the other) yang berbeda dari 11 bulan lainnya. Bulan yang mestinya jadi ajang refleksi dan mengingat diri, malah jadi bulan yang asing dan retak. Asing tak dikenali, retak tak terpahami.

Sepertinya Ramadhan Terakhir ini menjadi Ramadhan terberat bagi hidup saya…

3 thoughts on ““Bulan Seribu Tawa”

  1. pandangan yg keren abis ‘to!

    Mungkin semua itu menjadi cara beberapa orang yg sedang berusaha utk tetap produktif ber-ikhtiar. Selera pasar yang terlihat dari TV rating menjadi acuan tentunya, terlepas dari benar – salah / baik – buruk.
    Kita yang menjadi bagian dari pasar tersebut tetap bisa memilih kan? Mencari tontonan alternatif atau tidak menonton sama sekali bisa jadi yang terbaik bagi seseorang.

    Jadi inget soal pembredelan tabloid Monitor bbrapa th yg lalu. Saat semua orang marah-marah karena merasa nilai ke-Islaman dikotori oleh tabloid tsb, satu orang ulama berkata, – kurang lebih spt ini: – “daripada marah-marah, lebih baik kita (orang Islam) bercermin… ”

    Kendali emosi (tawa, marah, sedih, riang, dsb) menjadi tuntutan yang menantang bagi orang yang “tahu”.

    Energi yang dibutuhkan mungkin sama, namun lebih baik mana; ketawa2, marah2, atau memaksa diri untuk padatkan kalbu dengan nilai2 keTuhanan?

    ah.. sok tahu sekali kamu saaaat, satt!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s