Abah Anom, dalam kenangan

Dalam perjalanan ke Kalimantan, seminggu lalu saya dapat kabar tentang wafatnya Abah Anom. Tokoh kharismatik yang memimpin masyarakat adat kasepuhan di seputaran Gunung Halimun. Saya mengenalnya 13 tahun lalu, ketika untuk pertamakalinya kami mengikuti upacara Sereun Taun yang tiap tahun diadakan. Kami mengetahui acara tersebut dari kerabat Antrop Unpad yang memang punya kegiatan penelitian di sana. 

Kala itu, Abah tidak seperti yang saya bayangkan. Bukan seorang tua berjanggut, tapi tampak muda (makanya disebut Anom, yang artinya muda dalam bahasa Sunda), segar dan penuh kharisma. Tatap matanya tajam menyorot hingga ke lubuk hati. Saya tak banyak bercakap waktu itu, karena kesibukannya mengatur upacara.

Saya banyak bercengkerama dengan warga desa. Darinya saya makin mendapat gambaran betapa bersahaja dan komitmen adatnya dalam menjaga lingkungan. Darinya saya dapat gambaran bagaimana secara ekologis, masyarakat adat kasepuhan mengenal pembagian lahan : tutupan, titipan dan garapan. Lahan / hutan Titipan adalah wilayah yang tak boleh disentuh sama sekali, karena titipan yang mesti dijaga. Sedangkan tutupan, meski tertutup tapi masih ada beberapa aktifitas yang dibolehkan oleh adat. Dan garapan adalah lahan yang boleh digarap. Model ini ternyata mampu mensejahterakan warganya, yang setiap sereun taun selalu memajang hasil buminya. 

Menariknya, dalam sereun taun, ada semacam pidato pertanggungjawaban dari Abah kepada segenap warga. Capaian apa saja yang telah dihasilkan dan apa yang belum. Terkadang ada keluhan dan kritikan yang cukup keras, tapi itu tak melunturkan kewibawaannya. 

Inilah kearifan lokal yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakatnya. Dan ini bisa terlaksana karena kepemimpinan Abah. Dari kampung yang jauh di tengah gunung, saya melihat bagaimana lokalitas membangun dunianya sendiri. Dan karenanya setiap ada kesempatan saya selalu menyempatkan diri mengunjunginya. 

Dan kini, di belahan pulau lain, saya hanya bisa bertakzim dan tepekur melepas kepergian Abah. Memanjat doa semoga penerusnya, melanjutkan kebijaksanaan alam dan meneruskan membangun dunianya… welcome home Abah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s