The Persuit of Happyness.

“We hold these truths to be self-evident, that all men are created equal, that they are endowed by their Creator with certain unalienable Rights that among these are Life, Liberty, and the pursuit of Happiness.” (Declaration of Independence) 

Apakah kita bahagia? Seperti apakah kebahagiaan itu? Apakah tinggal di rumah mewah adalah kebahagiaan? Bahagiakah kita jika memiliki mobil Ferari? Kebahagiaan adalah hal yang paling dicari oleh setiap umat manusia di dalam hidupnya. Bahkan sejak zaman Epicurus, seorang filsuf Yunani, menyatakan bahwa aktivitas manusia dipandu oleh dorongan untuk mendapat kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Karenanya tujuan hidup adalah kebahagiaan. Tetapi bagaimanakah kebahagiaan itu diraih?

Pencarian tentang makna kebahagiaan inilah yang menjadi inti film The Persuit of Happyness. Film yang dinominasikan Oscar pada tahun 2006 diproduksi secara kolaborasi antara Overbrook Entertainment, Escape Artist, dan Relativity Media, serta disebarluaskan melalui jaringan Columbia Pictures. Film ini pertama kali ditayangkan pada 15 Desember 2006. Film ini diadaptasi dari kisah nyata perjuangan hidup Chris Gardner untuk keluar dari kemiskinan dan upayanya mengejar kebahagiaan hingga menjadi seorang pialang saham terkemuka di Amerika Serikat. Selain banyak dinominasikan di berbagai penghargaan, kisah film ini telah menginspirasi banyak orang.

Chris Gardner, seorang AfroAmerika yang kini menjadi salah seorang pialang terkemuka di Amerika. Kendati kehidupannya kini sukses, film ini justru mengangkat perjuangannya menjadi seorang ayah dengan 1 orang anak untuk keluar dari kepahitan hidup dengan mengejar kebahagiaan. Judul film ini diambil dari kata-kata yang diucapkan oleh Thomas Jefferson dalam Deklarasi Kemerdakaan Amerika Serikat. Sedangkan kesalahan penyebutan “happiness” merujuk pada sebuah dekorasi mural di tempat penitip-asuhan anaknya yang salah penulisannya (mestinya “happyness”). Dan kata-kata yang terurai dalam Deklarasi Kemerdakaan AS seperti termaktub diatas menjadi motivasi Gardner untuk tetap berusaha mengejar kebahagiaan. Film ini mengambil setting San Fransisco tahun 1981, dimana saat itu Gardner (diperankan dengan sangat baik oleh Will Smith) menjadi seorang salesman untuk menghidupi istri (Linda, dimainkan oleh pemain debutan Thandie Newton) dan anaknya (Christopher Gardner, diperankan dengan apik oleh Jaden Smith yang dalam kehidupan nyata adalah anak Will Smith).

Pada mulanya Gardner begitu yakin bisnis Portable Medical Bone Density Scanners (Pemindai Medis Kepadatan Tulang Portabel) itu sangat menjanjikan, karena itu ia berani menghabiskan sebagian besar tabungan keluarga sebagai modal awal. Kenyataannya, menjual alat tersebut tidak semudah yang dibayangkan Gardner sebelumnya, bahkan dalam 4 bulan belum ada satupun alat yang mampu dijualnya. Karenanya untuk turut menopang kehidupan keluarga, istrinya bekerja dua shift sebagai buruh pabrik. Kian lama beban hidup semakin sulit, diawali dengan ketidakmampuannya membayar denda parkir mobilnya.

Kehidupannya berubah, ketika suatu hari ia melihat seseorang turun dari mobil Ferari Merah di depan sebuah gedung. Ia menghampiri orang tersebut dan menanyakan pada orang tersebut, “apa pekerjaannya?” dan “bagaimana anda melakukannya?” Jawaban orang itu adalah dengan menunjuk sebuah gedung menjulang, seraya berujar “menjadi pialang saham.” Sejak itulah Gardner bertekad untuk menjadi seorang pialang. Dan kesempatan itu terbuka ketika ada lowongan magang Pialang Saham (Stockbroker) di Dean & Witter Investment Services. Lowongan itu memberikan kesempatan kepada 20 orang untuk bekerja magang tanpa menerima gaji.

Selama magang, selain diharuskan menjaring klien, peserta juga diberi materi dan akhirnya ada test kelulusannya untuk kemudian dipilih 1 orang sebagai karyawan tetap. Tetapi ternyata, pilihan Gardner menjadi peserta magang yang notabene tidak dibayar membuat istrinya tidak kuat lagi menghadapi berbagai beban hidup. Linda menyerah dan memilih meninggalkan sang suami. Gardner tidak menahan kepergian sang Istri dan hanya berkeras bahwa dia akan mengurus Christopher yang saat itu berumur 5 tahun. Gardner bertekad tidak akan meninggalkan anaknya Gardner, karena Ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang serupa dengannya. Dimana ia baru berjumpa dengan ayahnya saat berusia 28 tahun dan sejak saat itu. Ia pun bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang ia jalani saat itu.

Setelah kepergian istrinya, Gardner berturut-turut mengalami kemalangan. Mula-mula Gardner diusir dari apartemennya karena tidak mampu membayar uang sewanya. Mereka pun lalu tinggal di motel murah, tetapi itupun tak berlangsung lama, karena tak mampu membayar uang sewa kamar. Di saat Gardner bekerja, anaknya dititip-asuhkan di sekolah penitipan anak. Menjelang malam hari mereka berlari menuju rumah singgah untuk mendapatkan tempat bermalam. Tak jarang mereka tak mendapat tempat, karena antrian terlalu panjang. Bahkan ada saat dimana Gardner dan anaknya harus tidur di kamar mandi di salah satu sudut statiun kereta. Adegan ini sangat mengharukan, untuk membujuknya masuk ke dalam kamar mandi, Gardner mengajak anaknya bermain seperti di dalam hutan, mereka perlu berlindung di dalam gua dari serangan hewan buas. Di dalam kamar mandi, anaknya tertidur beralaskan kertas (toilet paper) dan berbantalkan pangkuan ayahnya. Gardner menangisi kejadian ini. Dan ini adalah salah satu saat dimana Gardner menangis.

Untuk mewujudkan impiannya, Gardner berjuang untuk menjadi karyawan tetap di Dean & Witter Investment Services, ia belajar hingga larut malam. Di siang hari ia menghabiskan sebagian besar waktunya menelpon orang-orang yang ia anggap punya potensi untuk menggunakan jasa Dean & Witter Investment Company. Termasuk melakukan berbagai pendekatan khusus kepada calon kliennya. Ini dilakukan karena sebagai pemula Ia diharuskan mendapat beberapa klien agar perusahaannya dapat berjalan.Selain kepada klien, Gardner pun membangun hubungan dengan para petinggi diperusahaannya. Tak jarang Ia mengerjakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya, misalnya membelikan makan siang atau memarkikan mobil supervisornya. Bahkan Ia harus rela meminjamkan 5 dollar yang terkahir dimilikinya untuk membayarkan taksi salah seorang direksi. Begitu juga ketika ia mengajak untuk berbagi taksi dengan bosnya dan menyelesaikan permainan ”rubicks cube” selama perjalanan, meski kemudian ia tak mampu membayar taksi tersebut.

Pada akhirnya, saat yang dinantikan pun tiba. Suatu hari Gardner dipanggil oleh dewan direksi perusahaanya. Ia dinyatakan diterima bekerja di firma tersebut sebagai pialang saham. Tak banyak kata yang keluar, Ia menahan haru. Ia pun melangkah keluar kantor, merayakan keberhasilannya dengan menangis! Sebuah langkah telah dimulai hingga akhirnya Gardner mencapai kesuksesan sebagai legenda Wall Street (pasar bursa di Amerika) yang sukses menjadi pialang saham dan CEO di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s