Mengenang Sang Macan Antropologi

Kalau tak salah hitung akhir Desember 2007 ini persis 40 hari wafatnya Prof. Parsudi Suparlan. Ada yang ndredeg Kamis pagi (22/11/07) lalu. “Sudah tahu Pak Parsudi meninggal? Tadi pagi beritanya, tapi tak tahu jam berapa tepatnya.” Seorang kawan mengirimkan smsnya di pagi yang hening ketika saya tengah berada sebuah villa di Cianjur. Waktu seperti berhenti dan saya terhisap dalam kesenyapan. Tak dinyana kalau kabar itu begitu mendalam saya rasakan.

Saya mengenalnya sebagai salah satu dosen di jurusan Antropologi UI, untuk mata kuliah Antropologi Agama, Antropologi Perkotaan, Hubungan Antar Suku Bangsa, Analisis Jaringan Sosial, dan Metode Antropologi. Cara mengajarnya khas, dengan rokok bak kereta api (cara menghisap rokokpun juga khas: dengan punggung tangan diletakkan sedikit lebih tinggi dari 2 jari yang menjepit rokok, sehingga sebagian tangannya menutupi mulutnya), penjelasan-penjelasannya gamblang, sistematis dan penuh analisis yang dalam, dan yang pasti tawa nyinyirnya selalu membahana jika dilihat kami bingung, atau terkesima dengan penjelasannya.

Ia memanggil kami “sudara” dan kami selalu mengkeret di hadapannya, apalagi saat mengadakan ujian lisan dadakan yang sering dilakukannya. Ini memang kebiasaan yang sudah kami dengar jauh sebelum mengambil matakuliahnya. Banyak para mahasiswa pendahulu kami menjadi “korbannya.” Bahkan pernah seorang asisten dosen yang justru “habis” dibantai saat Pak Parsudi melakukan ujian lisan mendadak!  

Justru itulah yang membedakannya dengan dosen-dosen lain seangkatannya, seperti Pak James Danandjaya sang ahli foklor atau Pak Junus Melalatoa sang pakar kesenian tradisional. Kalau mereka cenderung mengedepankan deskripsi yang detail dan mendalam, Pak Parsudi justru memasukkan analisis yang juga mesti tajam. Kami diminta untuk memahami teori secara mendalam, bukan hanya definisi, tapi mengerti mengapa teori tersebut muncul dan apa kegunaannya dalam penelitian Antropologi.

Begitulah, setiap mengambil matakuliahnya kami termehek-mehek membaca bahan-bahan sebelum kuliah dan berfikir lebih keras dari kuliah-kuliah lainnya. Namun justru dengan begitu kami menjadi tertantang untuk belajar lebih jauh tentang Antropologi. Apalagi kemudian saya sempat menjadi asistennya selama hampir 2 tahun untuk matakuliah Antropologi Agama.

Untuk “mendongkrak” pemahaman saya tentang bidang ini, saya diwajibkan kuliah dengar di beberapa matakuliah yang beliau asuh untuk program pasca sarjana. Mula-mula saya senang saja ikut kuliah gratis, tapi ternyata bebannya sama juga dengan para mahasiswa pasca: saya juga mesti membaca bahan, bahkan presentasi. Tadinya saya mau menolak, tapi saya pikir ini tantangan yang tidak datang dua kali.  

Dalam sebuah kesempatan, saya sempat bertanya soal model mengajarnya yang terkesan sangar. Jawaban ternyata singkat saja, “Saya ingin mendidik Antropolog menjadi macan, bukan kucing, apalagi serigala yang kroyokan,” begitulah kira-kira analoginya, sambil, mungkin heran dengan pertanyaan saya. “Sudara mesti ingat, menjadi Antropolog itu pasti melawan arus, perangkat ilmu kita mengajarkan kita untuk setia pada masyarakat. Kalau sudara tak jadi macan, macan itu hewan soliter, sudara hanya akan jadi ilmuwan-ilmuwan yang bisa dibeli proyek, mengerti sudara?” Saya mengangguk terpana, disela-sela tawa nyinyirnya. Betapa dalam penghayatannya terhadap ilmu ini. Tak mengherankan, bak seekor macan, kesendirian menjadi jalan hidupnya. Selamat Jalan Macan Antropologi Indonesia!

3 thoughts on “Mengenang Sang Macan Antropologi

  1. Saya juga mempunyai kesan yang sama dengan anda tentang Parsudi. Jadilah macan jangan kucing !. Beliau yang membimbing tesis saya tentang Orang Kubu. Habis waktu saya 5 tahun dibimbing dia. Tapi saya benar-benar puas. Sampai titik ubun-ubun intelektual saya. Habis diperas sampai kering. Dia benar bisa memberikan inspirasi bagi mahasiswanya. Setidaknya untuk saya pribadi.

    Salam

    tijok
    http://prasetijo.wordpress.com

  2. saya belum mengenal banyak mengenai sosok P. Parsudi, bisakah anda lebih banyak bercerita mengenai beliau? utamanya saya ingin tahu bgmn pikiran2 beliau dalam kuliah antropologi agama. saya baru belajar mengenai ini.
    kalau boleh saya dapat gambaran mengenai antropologi agama .

  3. Saya lulusan antropologi unair 2001.. saat saya kuliah kala itu, nama Parsudi Suparlan sangat menyeruak di sini terutama tentang kajian kemiskinan perkotaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s