Anti Klimaks

Senin (5 Mei 2008 ) adalah 100 hari wafatnya Daripada Soeharto. Saya masih ingat kejadian itu. Di sebuah Ahad yang penat, sesaat setelah sholat zuhur di Pondok Mertua Indah, Bapak Mertua saya setengah terpekik: “Pak Harto akhirnya meninggal.” Ia lalu memencet channel lain dan seantero TV isinya sama: breaking news wafatnya mantan Presiden Soeharto. Suara Bapak dan berita memasuki kamar kami yang hening di tepi sungai Cisadane. Saya tengah berdoa saat itu, sedikit terganggu memang, tapi ada yang merayapi kesadaran saya: Tak ada perasaan ndredeg atau nyes. Tak ada rasa kehilangan atau sedih, seperti ketika saya mendengar wafatnya Cak Nur, misalnya, Sang Guru Bangsa, atau Taufik Savalas, Sang Pelawak Bangsa. Ahad itu jadi hari yang aneh, apa arti sebuah kepergian? Inilah sebuah antiklimaks, setelah 3 minggu berturut-turut media membombardir kita dengan detik-detik sakitnya Pak Harto.

 

Antiklimaks, karena beraneka media sudah kehabisan bahan memberitakan sakitnya (sambil menunggu-nunggu kapan wafatnya), tetapi gagal memberitakan sikap Negara dan Bangsa terhadapnya. 3 minggu adalah panggung simulacra dari kehidupan berbangsa kita: tak jelas betul wajah Suharto: Bapak Pembangunankah? Bapak Koruptorkah? Prajurit Sejati? Dalang pembunuh ribuan rakyat? Dan masih banyak lagi wajah-wajahnya ….”buka dulu topengmu…?” jerit Peterpan!

 

Dan media kita gagal mengungkapkan itu, segagal Negara mendudukkannya secara jernih di muka bangsa. Dua kali sudah kita punya Presiden (dengan P besar) yang heibat di awal pemerintahan, tapi terjungkal keras dipenghujung kekuasaannya. Kekuasaan selalu bermuka dua: yin dan yang tak berkesudahan…. Tak ada pengadilan yang legitimate mampu menjalankan proses hukum bagi mereka… yang ada pengadilan ala rakyat: lewat gosip-gosip, sanksi sosial dan lelucon-lelucon yang menjadi katarsis rakyat yang makin terjepit. (Ketika di Jepara, seorang peserta Forum Warga bercoleteh mengapa Pak Harto tidak segera meninggal? “soalnya duit rakyat belum dikembalikan.” Jawaban itu ditimpali peserta lainnya “malaikat kesulitan mengkalkulasi kebaikan dan keburukannya –masing2 sama banyaknya- jadi perlu waktu untuk menghitung.” Jawaban lain, “Pak Harto tengah bernegosiasi dengan Tuhan, soal posisinya kelak…”).

 

Inilah sebuah antiklimaks sejarah Indonesia….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s