United color of Islam

Awal Juni lalu, kita dikagetkan dengan “serangan umum” FPI (Front Pembela Islam) kepada AKBB. Dunia televisi kita pun dipenuhi dengan gambar-gambar penyerangan tersebut. Berita kian ramai, ketika kedua petinggi dari dua kubu itu, Habib Riziq dan Gus Dur saling menebar ancaman di media.

 

Melihat FPI yang demikian, mengingatkan saya pada 5 tahun silam, ketika saya membantu seorang kawan yang tengah skripsi dan mengambil topic tentang gerakan radikal Islam di perkotaan. Saya sendiri kala itu tertarik membantunya untuk mengamati lebih dekat “wajah” Islam dalam konteks perkotaan. Kala itu, saya sempat mewawancarai Habib Rizieq juga sekjen FPI, para lasykar dan beberapa penduduk sebuah kampong di Ciputat yang sebagian besar warganya adalah simpatisan FPI.

 

“Strategi dakwah kami adalah Nahi Munkar,” begitu Habib menyebutkan strategi organisasinya sambil menjelaskan mengapa hal itu menjadi pilihannya, seraya mengutarakan kekecewaannya kepada ormas Islam yang berstrategi “Amar Ma’ruf” tetapi seolah tak peduli dengan kebobrokan moral yang terjadi. “kebaikan akan kalah oleh kemaksiatan yang terorganisir,” demikian kira-kira falsafah organisasi ini. Hasil investigasi FPI kemudian memperlihatkan peta kemaksiatan di Jakarta dan siapa actor-aktor di baliknya. Mulai dari penyelenggara hingga pem-back up berhasil dipetakan. Menariknya, sebagai bagian dari strategi berdakwah, dari peta itu kemudian disusun ranking pem-back up mulai dari yang paling mudah dianggap musuh, hingga paling berat. Ranking ini beranjak mulai dari yang terendah adalah pemda DKI (yang banyak memberikan izin di Kemang), hingga organisasi pemuda (PP) atau underbow parpol (banser, dll), hingga TNI-Polri (Polri-AU-AL-AD). Dengan menempatkan Pemda DKI pada ranking terendah, FPI pernah “menyandera” balai kota DKI selama 6 jam. Mereka juga berani menghajar kafe, diskotik maupun sarana hiburan yang dianggap mengganggu pelaksanaan syariat Islam, khususnya pada saat bulan Ramadhan atau hari besar Islam. Pentungan, bambu, golok, hingga ketapel adalah senjata yang sering digunakan. Inilah wajah kekerasan dari kelompok Islam yang terkepung dan kalah oleh perkotaan.

 

Televisi pun kami matikan. Lalu kami sekeluarga, memulai rutinitas 2 bulanan  berkumpul keluarga dengan berkunjung ke Kampung 99 yang terletak di Desa Meruyung, Cinere, di sudut kota Depok. Kampung yang asri dan di huni oleh 10 KK. Kampung ini hanya seluas 7 hektar dengan rumah kayu bertingkat (sungguh kontras dengan gedung-gedung di sekitar Margonda yang menjadi jantungnya kota). Ke seluruh penghuni memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan memanfaatkan lahan yang ada, entah bersawah, kebun, empang, atau pun berternak kambing. Keunikan inilah yang kemudian mereka jadikan sebagai wahana wisata dengan ditambah berbagai fasilitas: kandang rusa, rumah lebah, berperahu mengelilingi sungai di sekitar kampung, hingga sepeda dan flying fox.

 

Di sela-sela menikmati makan siang, saya sempat berbincang dengan Mbak Sinta salah seorang penghuni kampung. Ia menjelaskan bahwa kampung ini dibangun pada tahun 2005. Idenya sederhana saja untuk memenuhi pesan Abah, bahwa dalam kebersamaan permasalahan hidup bisa diselesaikan. Selain itu, Abah juga berpesan, bahwa dalam Qur’an perlambang atau sumber kehidupan adalah tanaman dan air. Karenanya agar hidup berkualitas, perlu memenuhi sumber-sumber kehidupan tadi dengan bersih dan sehat. Untuk itulah, mereka kemudian bertanam organis dan menanam tanaman yang mampu menangkap air. Hasilnya dalam 3 tahun, 99 jati putih tumbuh subur. Daerah yang dulu gersang kini hijau dan sejuk. Dan yang penting ke sepuluh keluarga hidup dengan harmonis dengan alam.

 

Yang menarik mereka tengah mendidikan pola pendidikan anak-anak mereka secara kolektif dengan diserahkan pada kaum ibu. Sambil menyitir hadist, Mbak Sinta menyebutkan bahwa Ibu adalah sekolah yang besar (al ummi madrastul qubra). Karenanya pendidikan usia dini anak-anak dikelola oleh para ibu, mulai dari mengajar beraneka bahasa (inggris, arab, china, jepang), ketrampilan, hingga pelajaran sekolah (matematika, IPA, dll).

 

Inilah wajah Islam yang membumi yang diejawantahkan dalam perilaku keseharian. Wajah Islam yang selaras dengan alam dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

 

Setelah puas bermain di kampung 99, kami lalu menutup perjalanan dengan sholat ashar di Masjid Qubah Emas. Ini adalah salah satu masjid yang sempat bikin ramai dunia permasjidan di Indonesia, karena kubah-kubahnya terbuat dari emas. Masjid yang menempati areal 70-an hektar, di tata asri dengan tanaman palem dan buah-buahan di halamannya. Mesjidnya sendiri memperlihatkan corak Arab yang ingin menonjolkan kemegahan, kemesteriusan dan ketakjuban(tremendum, misterium, fascinatum). Inilah wajah Islam yang megah, agung, dan mengundang decak kagum (kepikir gak harga 1 kubah itu berapa milyar? Dengan luasan areal yang dimiliki berapa dana yang telah digelomtorkan?), namun berjarak (karena lebih rame jadi sarana wisata religius). Orang datang bukan hanya untuk beribadah, tapi juga berfoto.

 

FPI, Kampung 99, Masjid Kubah Emas, adalah sebagian dari wajah-wajah Islam di atas panggung Indonesia. Berbeda dalam rupa, tapi dalam satu Islam. Menyitir iklan sebuah merk pakaian: inilah united color of Islam!

One thought on “United color of Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s