Renungan Kemerdekaan: Merahputihku yang kuyup

Hujan pecah di senja yang redup di komplek kami, di Depok. Hujan menggagalkan karnaval yang sudah dipersiapakan panitia dan warga komplek sejak siang tadi. Sepeda yang dihias, anak-anak yang berdandan dengan pakaian daerah masing-masing pun tak jadi berkeliling komplek. Termasuk Malika, putri kami yang sejak sebulan lalu selalu merengek minta ikut karnaval. Ia pun menanggalkan kebaya putih dan kain batik berwarna merah muda kesukaannya. Ada guratan kecewa…

Saya hanya termangu menatap senja itu, mata tak lepas dari bendera yang kini kuyup di dera hujan yang datang tiba-tiba. Hujan yang asing di bulan Agustus, hadir tanpa gerimis dan geledek. Membuat merahputih kami lunglai menjuntai seolah tanpa tenaga. Padahal sejak dua hari lalu dipasang, Ia selalu berkibar-kibar sentosa di terjang angin kemarau yang kering.

Ada yang ganjil sore itu, di tengah hingar bingar perayaan kemerdekaan di televisi dengan tampilan seragam: pakaian kedaerahan, lawakan kemerdekaan, dan upacara kemerdekaan di tempat-tempat tak biasa: di atas gunung, di dalam laut, hingga di perut goa. Kemerdekaan di sore yang diguyur hujan di bulan agustus yang kemarau membuat perut saya mual.

Saya mual, karena beberapa hari sebelumnya, harian Kompas menampilkan wajah di ujung-ujung Indonesia, di tapal batas, begitu istilahnya. Mereka berada di pulau-pulau terluar, daerah-daerah terpencil, maupun di perbatasan dengan negara jiran. Inilah wajah halaman belakang kita. Wajah yang penuh pembiaran: miskin fasilitas, tak ada sekolah, sulit air bersih, dan jangan tanya pelayanan kesehatan. Warga membanting tulang memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa sentuhan pemerintah. Saya teringat ketika melakukan perjalanan menyusuri Pontianak-Sintang-Danau Sentarum-Lanjak hingga ke Putusibau beberapa tahun lampau. Supir yang mengiringi kami bercerita betapa bagusnya jalan di Malaysia dan berbanding kontras dengan kondisi jalan yang kami lalui. Belum lagi pos perbatasan yang membuat kita begitu nelangsa dibandingkan negara jiran itu…

Tak jauh berbeda dengan mereka di ujung-ujung Indonesia, nasib Indonesia di pedalaman tak kalah perihnya. Bila tak mengalami pembiaran, Indonesia di pedalaman dieksploitasi habisan-habisan sumberdaya alamnya, mulai dari minyak, gas, timah, batu bara, hingga hutan. Dan jangan tanya nasib masyarakat di pedalaman itu. Mereka dikalahkan oleh negara, demi kepentingan nasional begitu katanya. Masyarakat yang telah tinggal sebelum negara ini lahir, justru harus menyingkir dari tanah kelahirannya sendiri. Tak jarang konflik menyertai kehidupan di sana. Terbayang saya ketika berkunjung ke Kutai, Pasir maupun di Bungo, bagaimana masyarakat sekitar hutan harus berjibaku dengan aparat demi mempertahankan lahan-lahan adatnya…

Bila tak dieksploitasi, suku-suku di pedalaman mengalami tradisionalisasi, dieksotiskan, dikerangkeng dalam keunikannya. Saya teringat Baduy, Tengger maupun suku-suku lainnya yang semakin dieksotiskan untuk kemudian menjadi obyek wisata.

Begitulah nasib halaman belakang Indonesia kita. Lalu bagaimana nasib halaman depannya? Salah urus adalah salah satu wajah Indonesia di kota-kota besar: kemacetan yang menggila, pembangunan yang tak bermakna. Korupsi masih jadi virus yang tak kunjung padam, kian menjalar hingga pelosok negeri. Korupsi kian terdesentralisasi! Dan terakhir budaya performa yang lupa subtansi makin menjadi tradisi: tak penting isi yang penting penampilan.

 64 tahun usia negeriku, merah putihku kian kuyup….

Depok 170809

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s