Rembulan tertusuk ranting kemarau

Rembulan tertusuk ranting kemarau

Takbirku parau, diterkam hawa dingin

Angin menebarkannya ke pelosok kota

Lindap di gemuruh metropolitan

Tuhan, kuhadapkan wajahku

Masihkah Kaukenali wajah yang kian asing ini?

 

 Berturut kubaca ayat-ayat pembuka,

Dan surah pendekMu yang sudah kuhapal sejak kanak-kanak dulu,

Tak ada surah baru, hanya pengulangan yang kusut masai tak kupahami maknanya

Tuhan, kuketuk pintuMu, dalam rapal

Terdengarkah degup jantung yang tak karuan itu…?

 

Aku pun ruku’, membengkokkan belulang menyudut

Memaksakan diri untuk tunduk,

melawan kegagahan tanpa bentuk

Tuhan, kuhadirkan diriku dalam takut,

apakah ini yang disebut takluk?

 

Aku pun rubuh dalam sujud, meratapi diri sampai mabuk
Lolongan yang terhapus bening malam,
sedang gemintang semarak di langit kelam

 

Tuhan, kupasrahkan hayatku dalam genggamanMu,
Dalam garis tipis antara putus asa dan ikhlas…?

 

Tuhanku, masihkah Kau menemaniku
Seperti bulan yang bergulir dari purnama menyublim sabit,
Kemarau begitu panjang, menanggalkanair, membuatku lupa bersuci…

 

Akhir Ramadhan, Agustus 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s